Klarifikasi KAMISAMA
June 1st, 2005 by edcousticAssalamu ‘alaikum Wr, Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Illahi Rabbi karena atas ijin-Nya kami dapat merampungkan tulisan berkaitan dengan klarifikasi penggunaan kata "KAMISAMA" yang terdapat dalam album edCoustic. Tak lupa shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarganya, para sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir jaman. Amin..
Kami menyadari sepenuhnya bahwa apa yang kami terjemahkan ini sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu tak pernah ada niatan untuk makna Tuhan (dalam bahasa Indonesia) dengan kata "KAMISAMA"(yang bermakna dewa dalam bahasa Jepang). Jikalau memang ijtihad yang kami lakukan adalah salah, semoga Allah mengampuni kekhilafan kami ini.
Namun bagaimanapun juga kami ucapkan Jazakumullahu Khairan Katsiraa atas segala kritikan, saran serta masukannya, semoga Allah mencatat kita sebagai golongan orang-orang beriman yang mengerjakan amal shaleh dan saling menasehati dalam menaati kebaikan dan kebenaran (Q.S Al Ashr :3).
Atas segala kritikan mengenai penggunaan katan "KAMISAMA" , kami berharap dapat diambil hikmahnya demi perbaikan di masa yang akan datang guna mendapat ridho Allah SWT. Berikut kami coba menyampaikan dasar pemikiran yang melatari penggunaan kata "KAMISAMA"
Landasan
"Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S Al Hujuraat : 13).
Berdasarkan ayat tersebut, kami berkeinginan untuk mensyiarkan kalimatullah dengan bahasa lain. Mengapa kami tidak mengambil kata Rabbi/Allah? Karena kami ingin memasukkan nilai-nilai dakwah melalui bahasa/kata yang sifatnya universal sehingga bisa diterima masyarakat luas.
Teori Penerjemahan
Suhendra Yusuf (1994 :
mengatakan "Penerjemahan adalah suatu proses pengalihan pesan yang terdapat dalam teks bahasa pertama atau bahasa sumber (source languange) dan padanannya di bahasa kedua atau bahasa sasaran (target languange)."
Tadao Umetaku (1989 : 1839, Nihongo Daijiten) , Di dalam Nihongo Daijiten, disebutkan bahwa penerjemahan adalah suatu kegiatan mengubah suatu komposisi yang tertera dalam suatu bahasa ke dalam bahasa lainnya.
Tetapi bukan itu saja yang harus diperhatikan oleh seorang penerjemah. Ia juga harus mengetahui latar belakang sosial budaya karya tulis yang akan diterjemahkannya, seolah-olah seperti sedang mambaca karya aslinya.
Tetapi karena kedua bahasa tersebut tumbuh dan berkembang dalam dua wilayah kebudayaan yang berbeda, maka wajarlah apabila akhirnya terdapat satu kata atau sekelompok kata bahasa sumber yang tidak mempunyai padanan langsung di dalam bahasa sasaran. Hal tersebut bisa dikategorikan ke dalam keterbatasan-keterbatasan yang disebabkan oleh faktor kebudayaan atau cultural untranslatability, juga disebabkan oleh munculnya kendala-kendala faktor bahasa atau linguistic untranslatability (Suhendra Yusuf, 1994 : 10 Teori Terjemah). Akan tetapi sebagai seorang penerjemah yang baik sudah sewajarnya tidak berhenti sampai disitu saja. Melainkan terus berusaha mencari solusi dari keterbatasan-keterbatasan tersebut dengan mencari alternatif padanan yang mendekati.
J. Levy (1967) mengatakan, "… a creative process which always leaves the translator a freedom of choice between several approximately equivalent possibility of realizing situational meaning". Dengan kata lain, penerjemahan juga menuntut penerjemah untuk kreatif dalam memilih salah satu dari sekian banyak alternatif padanan terjemahannya.
Penggunaan KAMISAMA
Dalam kata pengantar Al Qur’an berbahasa Jepang, tertulis penggunaan kata "KAMI" yang artinya adalah TUHAN. Pengenalan kata "KAMI" ditulis sebelum masuk penjelasan nama Tuhan orang Islam yaitu Allah SWT (sebagai catatan dalam bahasa Jepang, Allah ditulis dengan lafaz Arra) sebagai Yuuitsu no Kami (satu-satunya Tuhan atau Tuhan yang Maha Esa)
Berikutnya kita coba lihat beberapa literatur yang mengungkapkan makna "KAMI"
- Dalam Kamus Kenji Matsuura (hal 420) Kami = Tuhan ; Dewa ; Dewata. "sama" sendiri digunakan untuk lebih menghaluskan kata Tuhan sebenarnya. Tanpa kata "sama" -pun sebenarnya bisa. Untuk memperjelas penggunaan kata Kami yang bermakna Tuhan, contohnya adalah : Kami ni inoru = Berdoa pada Tuhan.
- Dalam Kamus Modern Jepang - Indonesia juga diterjemahkan seperti di atas. Kami = Dewa ; Tuhan ; Allah
- Dalam Kamus Standar Bahasa Indonesia - Jepang. Tetap sama Kami diterjemahkan juga sebagai Tuhan.
Baik kata KAMI/KAMISAMA artinya sama saja yaitu TUHAN. Memang sedia kalanya, penggunaan kata "KAMISAMA" adalah untuk menyebut Tuhan/Dewa karena mereka menyembah Dewa. Namun karena kita (umat muslim) penggunaan "KAMISAMA" adalah untuk Tuhan (Rabb). Ada yang berpendapat bahwa "KAMISAMA" adalah murni untuk dewa, hal ini sebenarnya kurang tepat karena penggunaan "KAMISAMA" juga tergantung konteks. Dalam bahasa Jepang "KAMISAMA" bisa juga digunakan bukan untuk Dewa/Tuhan, sebagai contoh "Soccer (sakka) no Kamisama" diartikan sebagai pemain soccer/sepak bola yang paling hebat, akan tetapi bukan Tuhan.
Selanjutnya, sepengetahuan kami, jumlah penganut agama Shinto/Budha di Jepang pada generasi sekarang mengalami penurunan sehingga kata "KAMISAMA" pun mengalami pergeseran tidak hanya diartikan sebagai dewa saja. Hal ini hampir sama dengan yang terjadi di Indonesia, jika kita melakukan penelusuran sejarah penggunaan kata Gusti, dapat dipahami bahwa Gusti merupakan kata ganti untuk menyebut Tuhan umat Hindu namun saat ini umat muslim juga menggunakan Gusti untuk kata ganti Tuhan.
Kesimpulan
Dengan demikian, kami melakukan ijtihad untuk menggunakan kata "KAMISAMA" menerjemahkan kata Tuhan (Rabb). Kami memohon ampunan dari Allah SWT, jika ternyata ijtihad ini menyimpang dari kebenaran. Jazakumullahu Khairan Katsiraa kami haturkan atas segala kritik dan masukan dari sahabat-sahabat sekalian tentang "KAMISAMA".
Wallahu ‘alam bisshowab, kebenaran semata hanya milik Allah, dan kesalahan datangnya dari kami selaku hamba yang dhoif.
Ditulis oleh:
Deden Supriadi & Eggie Gusthaman (edCoustic)
Irfan (edCoustic Management)
Irsa (alumni Bahasa Jepang UNPAD)
Sekar (siswa kelas 3 SMU Negeri 3 Bandung)
Literatur pendukung :
- Adrew N. Nelson, Ph.D, Kamus Kanji Modern Jepang-Indonesia, Kesaint & ianc, Jakarta - Indonesia : 2002
- Al Qur’an berbahasa Jepang : 1980
- Depag RI, Al - ‘Aliyy Bandung , CV Diponegoro, 2000
- Eorotaniguchi, Kamus Standar Bahasa Indonesia - Jepang, Dian Rakyat, Jakarta : 1999
- Furisari, Pipit, "Analisis Penerjemahan Tindak Tutur dalam Novel" Dan Perang Pun Usai, Karya Ismail Marahimin (suatu tinjauan pragmatik), Fakultas Sastra : Universitas Padjajaran, 2004
- Kamus Kanji Matsuura, Kyoto Sangyo University Press, Kyoto Japan : 1994
Selain itu kami juga melakukan wawancara dengan beberapa dosen Bahasa Jepang dan alumni aktivis masjid Salman ITB yang berada di Jepang untuk melakukan penilaian atas kasus ini. Memang ada yang menyatakan ketidaksetujuannya, dan sebagian besar menyatakan tidak ada masalah dengan penggunaan kata "KAMISAMA". Insya Allah akan disampaikan juga hasil wawancara/korespodensi dengan mereka berkaitan dengan hal ini.
wassalam…
edCoustic